Menurut BI, Ini Adalah Risiko Jangka Pendek Perekonomian Indonesia

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,05 persen pada tahun 2017. Proyeksi tersebut didasarkan pada solidnya pertumbuhan investasi dan ekspor.

Meski begitu, bank sentral juga masih tetap mewaspadai beberapa resiko yang dihadapi Indonesia dalam periode pendek. Resiko itu berasal baik dari bagian global ataupun domestik.

Gubernur BI Agus DW Martowardojo mengatakan, beberapa resiko global yang keluar diantaranya pemulihan ekonomi global yang tidak cocok dengan perkiraan. Diluar itu, ada pula beberapa normalisasi kebijakan moneter yang dikerjakan oleh negara-negara maju.

“Negara maju, terutama AS telah lakukan normalisasi kebijakan moneter, Desember 2017 telah menambah FFR (Fed Fund Rate/suku bunga referensi AS), ” kata Agus pada konferensi pers akhir th. di Kompleks Perkantoran BI, Kamis (28/12/2017).

Agus menjelaskan, pada th. 2018, suku bunga AS juga akan naik 3 kali serta pada th. 2019 3 kali. Oleh karenanya, Indonesia mesti menyiapkan keadaan moneter yang cukup ketat didunia.

Resiko yang lain yaitu tanda proteksionisme di beberapa negara. Agus menyebutkan, semasing negara tidak relatif mendorong perdagangan antarnegara, tetapi jadi relatif proteksionis membuat perlindungan kebutuhan negaranya. “Risiko juga keluar dari geopolitik di Timur Tengah serta Semenanjung Korea, ” katanya.

Dari bagian domestik, resiko yang keluar yaitu sumbangan mengkonsumsi rumah tangga pada perkembangan ekonomi. Agus menjelaskan, dalam satu tahun lebih ini sumbangan mengkonsumsi rumah tangga pada perkembangan ekonomi relatif alami penurunan.

“Ini butuh disikapi serta jadi perhatian, karna Indonesia ke depan masih tetap menginginkan mengkonsumsi rumah tangga. Jadi, ini butuh direspons, ” sebut Agus.

Resiko yang lain yaitu perkembangan export bidangal, yang mana delta export pertanian cukup bertambah. Tetapi, bidang yang lain termasuk juga pertambangan masih tetap negatif.

Diluar itu, pembiayaan domestik juga belum juga maksimal. Hingga, Indonesia masih tetap tergantung pada luar negeri untuk pembiayaan pembangunan.

“Kepemilikan surat bernilai negara nonresiden masih tetap tinggi serta debt service ratio Indonesia ada penambahan, ” kata Agus. Sumber: http://www.siamplop.net/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *